Selasa, 24 Januari 2017

PERAWAT, PEMIMPIN, DAN NALURI SEORANG IBU



Sidak Gubernur

Saya sudah menonton video sidak yang dilakukan seorang gubernur ke sebuah RSUD saat perawat sedang dinas malam dan wawancara sang gubernur dengan salah satu stasiun televisi.

Saya pribadi pernah mendapatkan pendidikan keperawatan sampai selesai, pernah menjadi pasien, dan pernah menjadi keluarga pasien. Selama menjadi pasien dan keluarga pasien, saya pun pernah mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari tenaga kesehatan (perawat, dokter, bidan, apoteker, gizi) dan juga pernah mendapatkan pelayanan yang sangat buruk dari tenaga kesehatan (perawat, dokter, bidan, apoteker, gizi), hingga akibat yang paling buruk adalah kematian anggota keluarga saya.

Saya memang belum pernah menjadi gubernur, namun saya pernah belajar tentang kepemimpinan dan manajemen, serta pernah merasakan dipimpin oleh pemimpin yang baik dan yang buruk.

Dengan kata lain, saya sebagai masyarakat biasa, berusaha melihat permasalahan ini dengan sejernih-jernihnya dan mengambil posisi senetral-netralnya tanpa memihak, kecuali kepada kebenaran dan kepatutan.

Pertama : Perawat Tidur

Soal tenaga kesehatan, khususnya perawat, yang dilaporkan oleh Bapak Gubernur, tidur saat bertugas dan meninggalkan meja jaga dalam kondisi kosong.

Sampai detik ini, informasi yang saya dapatkan masih simpang siur, tentang bagaimana fakta yang terjadi pada malam itu. Saya sebagai masyarakat sebenarnya sangat menunggu-nunggu klarifikasi dari pihak yang berwenang, tentang fakta sebenarnya yang terjadi. Bukan hanya tampilan gambar dan adegan pada video, tetapi bagaimana jalan cerita aslinya, yang dituturkan oleh para saksi dan pejabat berwenang yang hadir saat sidak.

Tetapi baiklah, sambil menunggu klarifikasi tersebut, saya akan tetap membahasnya. Seandainya dari hasil investigasi didapatkan hasil bahwa perawat memang bersalah, saya kira sudah sepantasnya jika perawat yang bersangkutan mendapatkan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun jika ternyata didapatkan hasil bahwa perawat tidak bersalah, dimohon kepada Bapak Gubernur untuk meminta maaf kepada insan perawat di seluruh Indonesia dan kembali memulihkan nama baik para perawat yang telah dirugikan.

Kedua : Aduan Masyarakat

Soal aduan dari masyarakat tentang kinerja petugas kesehatan yang buruk di rumah sakit tersebut.

Pernahkah bapak meminta klarifikasi dari pihak tenaga kesehatan? tentang apa yang terjadi di rumah sakit, apa yang menjadi kendala bagi mereka, apa yang menjadi hambatan sehingga masyarakat banyak yang mengeluh?

Maksud saya tentu untuk membuat data menjadi obyektif, berimbang, dan lengkap. Tidak hanya mendengar laporan dari satu pihak, tetapi dari berbagai pihak. Sebagai pemimpin tentu harus mampu berdiri di tengah-tengah, menjadi pengayom bagi semua pihak, karena semuanya rakyat Bapak juga. Jangan sampai dengan alasan untuk membela satu pihak tetapi malah menyakiti pihak yang lain.

Ketiga : Cara Menegur Perawat

Soal cara bapak melakukan sidak dengan marah-marah, membentak kasar, menendang tempat sampah, dan membawa serta wartawan.

Sebagai masyarakat, saya melihat hal itu adalah cara menegur staf yang sangat tidak elok. Saya sedih sekali melihat rekan saya perawat, diperlakukan secara tidak hormat. Kalau pun mereka bersalah, tentu ada cara dan aturannya untuk menegur staf di lembaga formal. Tentu untuk hal ini Bapak sebagai birokrat lebih paham dari saya yang hanya masyarakat biasa. Mereka perawat yang punya atasan dan penanggung jawab. Mereka punya organisasi profesi. Mereka mengenyam pendidikan tinggi dan berkomitmen pada kesehatan masyarakat Indonesia. Tidak sepantasnya Bapak menegur dan memperlakukan mereka seperti orang yang tidak bermartabat.

Sebagai orang timur yang penuh dengan kearifan lokal, kita mengenal pepatah, bagaikan menarik sehelai rambut dari dalam tepung. Bagaimana caranya agar rambut terambil, tetapi tidak membuat tepung berantakan. Bagaimana caranya agar Bapak dapat menegur orang dan memperbaiki sistem yang salah, tetapi tanpa mempermalukan yang bersangkutan.

Terpidana 20 tahun penjara karena kasus pembunuhan berencana saja punya rasa malu saat persidangannya disiarkan, dan tetap harus diperhatikan hak-haknya, apalagi perawat yang sedang bertugas di hadapan para pasiennya.

Ini sama saja seperti mempermalukan guru di depan para muridnya, atau mempermalukan komandan di depan pasukannya. Di bangsal, perawat itulah yang bertugas memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarganya serta memberi arahan tentang kesehatan. Masak Bapak sampai hati menjatuhkan harga diri mereka?

Mereka bukan perampok, pembunuh, atau bandar narkoba. Mereka didapati bukan sedang minum-minuman keras atau pesta narkoba. Mereka sedang tidur yang dorongan dasarnya semata-mata adalah kebutuhan dasar manusia. Kalau pun itu Bapak anggap salah, tetap bukan seperti itu caranya menegur staf yang salah.

Sebagai pemimpin, tentu Bapak memiliki kelebihan dari kami, masyarakat awam. Ketika masyarakat awam sangat emosional menyaksikan suatu hal, seharusnya pemimpin bisa mengendalikan emosinya jauh lebih baik dari masyarakat awam. Karena untuk kelebihan itulah, kami menghormati pemimpin.

Keempat : Dampak yang Meluas

Soal pernyataan Bapak yang tidak menggeneralisir semua petugas kesehatan. Bahwa Bapak mengapresiasi kinerja yang baik dan menindak tegas kinerja yang buruk.

Pernahkah Bapak ketika mengapresiasi kinerja baik para perawat, juga sambil membawa wartawan sedemikian banyak? Jika belum, semoga bisa menjadi bahan renungan. Jangan hanya keburukan saja yang disiarkan besar-besaran seolah perawat tidak ada jasanya, sedangkan kebaikan tak diperlakukan serupa.

Meskipun Bapak tak berniat menggeneralisir semua perawat buruk, dan hanya mau menegur kinerja perawat di satu rumah sakit saja, bahkan hanya di satu ruangan saja, tapi faktanya gelombang kebencian pada profesi keperawatan sekarang sudah meluas di seluruh Indonesia. Orang-orang mencibir, mencaci, menghina, dan merendahkan profesi keperawatan. Ini adalah dampak dari iringan wartawan yang Bapak izinkan untuk turut serta dalam sidak.

Niat bapak hanya ingin menegur beberapa orang perawat, tapi hasilnya seolah-olah yang bersalah adalah seluruh perawat di Indonesia.

Kelima : Pemberitaan Media

Saya melihat pemberitaan media massa kurang berimbang. Selama ini hanya keterangan dari Bapak Gubernur dan keluarga pasien saja yang dipublikasikan. Klarifikasi dari perawatnya mana? Saya berusaha berpikir positif, mungkin perawat dengan sabar menahan diri untuk berbicara demi menjaga situasi agar tidak bertambah panas. Sehingga dapat lebih fokus bekerja dan merawat pasien. Walau pun sebenarnya klarifikasi tidak harus berarti buruk.


PROFESI KEPERAWATAN LAHIR DARI NALURI SEORANG IBU



Saya pribadi, punya cara yang paling sederhana untuk memandang profesi keperawatan. Profesi ini lahir dari sebuah naluri dasar yang dimiliki manusia. Naluri seorang ibu. Seorang perawat yang merawat pasiennya diartikan sama seperti seorang ibu yang merawat anaknya.

Seorang ibu hanyalah manusia biasa, yang bisa saja berbuat salah dan lupa. Ketika seorang ibu berbuat salah, pantaskah jika kita menghardiknya? Sementara dialah orang yang selama ini menyuapi kita, memandikan kita, mengurus kita saat sakit, menghibur kita di kala nestapa, memapah kita berjalan, dan menyelamatkan nyawa kita…

Tidak ada seorang pun ibu yang berniat jahat pada anaknya, kecuali dia sakit jiwa. Juga tidak ada seorang pun perawat yang berniat jahat kepada pasiennya. Seandainya Bapak sempat merasakan barang sebulan saja bertugas sebagai perawat, saya yakin Bapak pasti tidak akan setega itu memperlakukan perawat, bahkan yang bersalah sekali pun.

Pemimpin adalah teladan bagi masyarakat. Kalau cara pemimpinnya demikian kasar menegur perawat, tidak bisa dibayangkan bagaimana nanti jika masyarakat yang menegur perawat. Sewaktu SD saya mengenal peribahasa “ guru kencing berdiri, murid kencing berlari ”, yang kira-kira maknanya, jika seorang yang dijadikan teladan berbuat sesuatu, maka akan dicontoh oleh orang-orang yang meneladaninya dengan lebih dahsyat lagi.

Intinya, saya hanya tidak setuju dengan cara Bapak menegur perawat saat melakukan sidak. Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari perbuatan buruk. Amin. Mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan.


Elvirayanti Mahyor, S.Kep., Ners.

DIET FULL KARBOHIDRAT, BERBAHAYA!


Ilustrasi pengecekan gula darah dengan alat digital.

Hallo sobat blogger!

Pernahkah sobat blogger makan seporsi nasi, dengan lauk balado kentang, sayurnya sup jagung bakso/sosis, tambahan lauknya perkedel kentang/bakwan jagung/mie goreng, pelengkapnya kerupuk, dan minumnya es teh manis?

Jika pernah, itu artinya kebiasaan makan sobat blogger sangat berbahaya. 

Mengapa berbahaya?

Karena nasi, kentang, jagung, bakso, sosis, mie, kerupuk, dan gula mengandung jenis zat yang sama. Yaitu karbohidrat atau zat tepung atau zat gula. Yang jika dikonsumsi terlalu banyak akan meningkatkan kadar gula darah diatas normal. Dan jika hal ini berlangsung dalam waktu lama, maka akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes mellitus atau penyakit gula. 

Kadar gula darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan penderita kolaps, jika telah lama berlangsung mengakibatkan kerusakan organ-organ tubuh, dan yang terburuk adalah kematian.

Wah… ngeri juga ya…

Penyebab penyakit ini memang sepele. Seringkali hanya karena ketidaktahuan atau terbawa hawa nafsu mengikuti selera makan. Tetapi akibatnya, sungguh fatal. Walaupun diabetes umumnya diturunkan secara genetis, namun sekarang banyak sekali kasus diabetes yang disebabkan oleh kesalahan gaya hidup, terutama kebiasaan makan.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati

Hidup dengan penyakit apa pun, termasuk diabetes, bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Oleh karena itu sudah seharusnya kita menjaga pola hidup dan pola makan khususnya, agar terhindar dari penyakit diabetes. Cara ini akan lebih mudah, lebih murah, dan menyenangkan.

Namun jika sobat sudah terlanjur terkena diabetes, tidak ada jalan lain kecuali menata ulang pola hidup dan kebiasaan makan, teratur minum obat yang diresepkan dokter, disiplin menyuntik insulin dengan benar, serta menjalani gaya hidup sehat seimbang secara disiplin. Tidak perlu terpuruk, yang terpenting adalah berkomitmen untuk hidup sehat. Banyak diabetisi yang juga bisa hidup normal dan beraktivitas secara wajar.

Pola hidup sehat untuk mencegah diabetes
  • makan makanan seimbang antara karbohidrat, protein hewani, protein nabati, vitamin, mineral, dan air. Untuk hal ini saya sudah membahas di postingan sebelumnya yang berjudul " Dirimu adalah apa yang engkau makan ".
  • kurangi camilan dan minuman manis serta makanan yang mengandung karbohidrat (tepung-tepungan).
  • ganti camilan dengan sayur-sayuran atau buah-buahan
  • olah raga teratur
  • istirahat dan tidur cukup
  • hindari stress
Mudah-mudahan segala upaya yang kita lakukan berhasil maksimal dan bisa menghindarkan kita dari penyakit diabetes. Selamat menjalankan pola hidup sehat!




Minggu, 22 Januari 2017

10 KARAKTER KHAS PERAWAT





Menjadi seorang perawat yang profesional bukanlah pekerjaan gampang

Begitu banyak syarat yang harus dipenuhi jika seorang perawat ingin tampil profesional dalam bekerja. Bukan hanya pengetahuan yang cukup dan kesehatan yang prima, tetapi juga harus didukung oleh karakter yang cakap.

Karakter-karakter baik ini tidak hadir dalam sekejap 

Butuh waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk membentuknya. Itulah mengapa, seseorang yang ingin menjadi perawat hendaknya telah melatih karakter ini jauh-jauh hari semenjak ia berniat untuk menjadi seorang perawat.

Berikut adalah 10 karakter khas yang wajib dimiliki perawat:

1. Sabar

Sudah bukan rahasia lagi kalau profesi keperawatan sangat membutuhkan kesabaran. Merawat orang sakit yang perasaannya sangat sensitif adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran ekstra. Keluhan, rintihan, tangisan, kemarahan, atau keputusasaan dari pasien dan keluarganya harus dihadapi dengan penuh kesabaran. 

Padahal mungkin di sisi lain perawat juga sedang memiliki masalah sendiri. Tetapi di hadapan pasien, perawat harus mampu memprioritaskan kepentingan pasiennya dari pada kepentingannya sendiri. 

Seorang guru saya di fakultas keperawatan pernah berkata, “ Kata orang kesabaran itu ada batasnya, tetapi bagi saya tidak, kesabaran itu tidak ada batasnya.”. Mungkin para perawat bisa mengingat kata-kata guru saya ini ketika merasa mulai kehabisan kesabaran.

2. Telaten

Tidak bisa dibayangkan jika seorang perawat tidak telaten merawat pasiennya. Mungkin yang didapat adalah hasil balutan yang tidak tertutup sempurna, hasil mandi yang masih meninggalkan kotoran di tempat-tempat yang sulit dijangkau, atau justru pasien jarang menghabiskan porsi makannya.

Ketelatenan dalam merawat klien mutlak diperlukan karena keperawatan bukan hanya sebuah ilmu, tapi juga sebuah seni. Tidak ada hasil seni yang terbaik di dunia, termasuk seni merawat pasien, yang dikerjakan tanpa ketelatenan sang seniman.

3. Teliti

Menghitung tetesan infus, memastikan pemberian obat sesuai resep, mengingat jadwal kapan pasien harus cek ke ruangan lain, kapan pasien harus diambil darah dan berapa banyaknya, adalah beberapa contoh hal detail yang tidak boleh luput dari ketelitian seorang perawat.

Salah hitung tetesan infus, salah lihat dosis obat, salah jadwal, salah ambil bahan pemeriksaan, akibatnya bisa diprediksi, keburukan yang terjadi pada pasien. Bahkan akibat yang paling fatal adalah hilangnya nyawa pasien. Tentu ini sama sekali tidak kita inginkan.

4. Peka

Kepekaan dalam melihat masalah kesehatan dan keperawatan harus dimiliki oleh seorang perawat. Bagaimana seorang perawat harus mampu membaca tanda dan gejala yang tampak di diri pasien, meskipun kadang pasien tidak mengungkapkannya. Kepekaan yang tinggi akan menyelamatkan banyak pasien karena masalah telah terdeteksi secara dini sebelum masalahnya menjadi gawat.

Peka juga dapat diartikan sebagai peka pada budaya dan latar belakang yang dimiliki klien atau pasien. Sehingga asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien atau pasien adalah asuhan keperawatan yang holistik, yaitu utuh menyeluruh, meliputi seluruh aspek dari diri manusia.

5. Peduli

Akar dari profesi keperawatan adalah naluri keibuan. Naluri seorang ibu adalah menjaga anaknya. Jika diterjemahkan kepada profesi keperawatan, maka bisa diartikan sebagai kepedulian seorang perawat akan nasib atau kondisi kesehatan pasiennya.

Perawat yang bekerja dengan hatinya tidak mungkin cuek saat pasiennya kelaparan, kehausan, merasa nyeri, merasa ingin buang air, tidak bisa berjalan sendiri, dan merasa sedih. Perawat yang peduli akan datang membantu pemenuhan kebutuhan dasar kliennya dan memberikan solusi atas masalah keperawatan kliennya.

6. Ramah

Pernahkah sobat mendengar frasa “perawat judes”? Dan tahukah sobat bahwa selama lima tahun saya menuntut ilmu keperawatan dulu, tidak pernah ada satu bab pun dari bahan ajar keperawatan, yang mengajarkan kami untuk judes dan tidak ramah pada pasien.

Kalau menurut saya, kejadian perawat judes itu dilakukan oleh oknum perawat. Dan kemungkinan ada berbagai hal yang melatarbelakangi sampai perawat bisa menjadi judes. Untuk mengungkap penyebabnya, saya pikir membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Yang jelas, untuk sebuah pekerjaan di bidang jasa, apa pun itu, terlebih jasa yang melayani orang sakit yang sedang sensitif emosinya, keramahan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Seringkali keramahan perawat justru yang mempercepat kesembuhan pasien, bahkan sebelum obat dari dokter dihabiskan.

7. Terbuka

Bekerja melayani klien yang berasal dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, status sosial, ekonomi, suku, agama, bangsa, dan budaya, mutlak harus terbuka pada keberagaman.

Perawat tidak bisa bersikap dan berpikiran tertutup pada pasien yang memiliki nilai-nilai berbeda dengan yang dianut oleh perawat. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus memberikan asuhan yang sesuai dengan keilmuannya dan juga selaras dengan nilai-nilai yang dianut kliennya.

Ada sebuah teori dalam ilmu keperawatan yang dicetuskan oleh Madelaine Leininger, seorang  doktor keperawatan, yaitu teori keperawatan lintas budaya, dimana setiap perawat harus memberikan asuhan keperawatan tanpa mengesampingkan aspek budaya dari kliennya. Intinya, asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat haruslah peka budaya.

8. Kreatif

Pernahkah terpikir oleh sobat bahwa kondisi di lapangan seringkali tak seindah teori? Perawat sangat ingin memberikan asuhan keperawatan yang terbaik kepada kliennya, namun fasilitasnya tidak ada, alat-alatnya terbatas, bahan-bahannya terbatas. 

Lalu, sebagai perawat yang baik, apa yang harus dilakukan?

Tidak ada jalan lain kecuali menjadi kreatif. Kreatif menggunakan dan memodifikasi sumber daya yang ada untuk kesembuhan atau optimalitas kesehatan pasien. Mungkin perawat bisa menyulap selang infus bekas menjadi torniquet untuk membendung aliran darah, atau menggunakan kantung plastik bening untuk menggantikan plastik stoma yang mahal, atau membuat poster sendiri saat akan penyuluhan di desa terpencil. 

Jujur saja, setiap perawat pasti pernah mengalaminya, bukan?

9. Asertif

Bekerja satu tim dengan personel yang lain dari berbagai disiplin keilmuan, membutuhkan sikap asertif agar dalam suatu masalah didapatkan satu kesepakatan dan menghindari kesalahpahaman sekecil apa pun.

Secara sederhana, asertif dapat dianalogikan seperti menarik sehelai rambut dari dalam tepung. Rambutnya berhasil keluar, tapi susunan tepungnya tidak rusak. Artinya perawat berhasil menyampaikan pendapat dan pandangannya tentang suatu hal tanpa menyinggung perasaan pihak lain.

10. Komunikatif

Komunikatif dapat diartikan sebagai kecakapan dalam menyampaikan pesan sehingga pesan itu dapat dimengerti oleh orang yang menerima pesan. 

Seorang perawat yang bekerja dengan banyak orang setiap harinya haruslah komunikatif. Terutama saat perawat memberi pendidikan kesehatan kepada kliennya, penjelasan perawat harus mudah dipahami dan diterapkan oleh klien.

Seorang perawat juga harus pandai menyampaikan pesannya kepada rekan sejawat dan profesi kesehatan yang lain, agar tercipta hubungan kerja yang harmonis dan kerja sama yang berkualitas.

Hmmm... tidak mudah ya... 

Oleh karena tidak mudahnya, maka setiap perawat yang cakap dan profesional, layak mendapatkan penghargaan dan penghormatan yang tinggi.

Itulah 10 karakter khas perawat yang harus ada dalam diri setiap perawat. Semoga semua yang telah dilakukan oleh seorang perawat yang profesional bisa bermanfaat bagi sekelilingnya dan bisa menjadi tabungan pahala bagi sang perawat di akhirat nanti. Amin.

Salam keperawatan

Selasa, 17 Januari 2017

KISAH ORCHARD: PEMBUKTIAN AKAN CINTA MANUSIA




Orchard... Orchard...

Apakah itu nama seorang pria tampan?

Bukan.

Itu adalah nama seekor anjing ras maltese, milik tiga saudari Davina, Davita, dan Davira ( murid-murid les privat saya dulu ), yang dihadiahkan oleh ibu mereka.

Tiga saudari itu sangat menyayangi si kecil Orchard sepenuh hati. Saya ingat ketika dulu masih mengajar les, Orchard yang lucu itu selalu menyalak-nyalak kegirangan kalau saya datang, dan akhirnya digiring masuk kandang sebelum pelajaran dimulai. Karena suara salakannya sangat mengganggu konsentrasi belajar. 

Setiap hari, tiga saudari itu secara cermat mengurus Orchard. Mereka bergantian memberi makan, memandikan, mengeringkan, membersihkan kotoran, membersihkan kandang, menggendong, mengajak main, dan mengajak Orchard jalan-jalan keliling komplek.

Orchard bak raja minyak yang berjalan diiringi gadis-gadis cantik nan rupawan yang begitu menyayanginya.


Lalu... ada apa dengan Orchard?

Belakangan saya melihat profile picture whatsapp tiga saudari itu dan mama mereka, kompak memasang foto Orchard. 

Ada apa gerangan? 

Chatt saya dengan Davita via whatsapp ini menjawab semuanya.

Kak Viraa... Orchard mati, Kak!

Heuheuheuu...( emoticon menangis )

Dia mati karena sedih mau ditinggalin Davira kuliah di Seattle

Karena tiap hari kan selalu Davira yang take care dia

Aku sama Davina kan ngekos...

Dia enggak pake sakit dulu, Kak

Dia cuma enggak mau makan, trus lemes perlahan-lahan

Dan akhirnya mati, Kaaakk!!!

Aku sedih banget, kita semua nangis... ( emoticon menangis )

Mama yang paling sedih, karena semenjak kita udah pada gede..kan jarang di rumah

Jadi Orchard yang selalu nemenin mama...

Ini kita semua masih di luar ( negeri )...

Enggak tau deh kalo udah pulang ke rumah...

Mungkin kita bisa nangis lagi, Kaakk!

Sedihnya tuh, dia mati pas kita lagi enggak di rumah, Kak

Jadinya Opa yang nguburin...

Hiks..hiks...hiks... ( emoticon menangis )

Itulah sepenggal isi chatt dari Davita

Intinya mereka sekeluarga tengah amat bersedih karena anjing kesayangan mereka mati. Sedemikian sayangnya mereka pada Orchard sehingga kematian Orchard membuat mereka sangat sedih dan kehilangan. 

Mencoba membandingkan

Orchard bukanlah manusia. Dia hanya seekor anjing peliharaan. Tetapi murid-murid saya begitu menyayanginya seperti anggota keluarga sendiri.

Seketika teringat oleh saya bagaimana di dalam kehidupan ini banyak anak manusia disia-siakan. Bayi-bayi dibuang di selokan atau tempat sampah, anak-anak dilecehkan, dirusak masa depannya, dianiaya, bahkan dibunuh bagai tak bermartabat. Naudzubillah... 

Dahulu saya tak habis pikir, bagaimana mungkin bisa ada komunitas orang-orang pecinta hewan. Bagaimana mungkin ada orang yang mencintai hewan sedemikian rupa hingga menghabiskan dana yang tidak sedikit. Sekilas bagi saya tampak mubazir.

Namun setelah saya renungkan lagi, ditambah dengan kejadian nyata di depan mata, tentang kakak-beradik yang saya kenal baik sebagai penyayang binatang, akhirnya saya mengerti. Orang-orang ini hadir membawa hikmah. Menjadi bahan renungan bagi yang sampai detik ini masih belum pandai menyayangi sesama manusia.

Seharusnya kita belajar dari mereka. Mereka bisa menyayangi hewan dengan segenap hati dan memberikan apa yang mereka punya. Lalu mengapa kita tidak melakukan hal yang sudah seharusnya kita lakukan kepada anak-anak kita, orang tua kita, dan sesama manusia? Padahal mereka jauh lebih berharga.



Based on the True Story. Thanks for my beloved students, Davina, Davita, and Davira. 




Minggu, 08 Januari 2017

BONDING ANAK TERLALU ERAT: PILIH BEKERJA ATAU DI RUMAH?




Bimbang...

Sejak memiliki Dova, hati saya mulai bimbang, apakah akan terus bekerja, ataukah murni menjadi ibu rumah tangga.

Become a nurse and lecturer or... a mom?

Menjadi seorang perawat dan dosen adalah cita-cita saya sejak kuliah. Saya sangat menikmati kegiatan belajar, mengajar, dan merawat klien sampai kondisinya baik. Apalagi saya melewati proses pendidikan yang tidak mudah. Sepuluh tahun waktu yang harus saya bayar untuk menyelesaikan pendidikan Ners karena saya kuliah sambil bekerja. 

Belum lagi dukungan orang-orang yang selama ini sangat mendukung saya untuk terus sekolah. Membayangkan wajah mereka yang telah banyak membantu saya, rasanya saya tidak tega jika harus mengendapkan ilmu yang telah ditimba dengan susah payah begitu saja. Sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan, demikian kira-kira prinsip saya.

Menjadi seorang ibu adalah juga cita-cita saya sejak lama. Jauh sebelum saya bercita-cita menjadi perawat dan dosen. Di usia tiga puluh tahun barulah saya berkesempatan menjadi seorang ibu. Itu pun diawali dengan serangkaian proses yang juga tidak mudah. Keguguran dan berbagai gangguan saat kehamilan, sempat mewarnai perjalanan saya mendapatkan Dova, putri saya.

Diawal kelahiran Dova, sayalah yang mengurus segala keperluannya...

Tidak ada orang lain sama sekali yang membantu. Kebetulan ibu saya juga baru selesai dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Sehingga sayalah satu-satunya orang yang setiap hari menggendong, memandikan, memakaikan baju,  mengganti popok, menyusui, menemaninya tidur, dan mengajaknya bermain. 

Kemudian, pengasuh datang silih berganti...

A yang ingin gaji besar

Sewaktu Dova berusia 1,5 bulan, saya mempekerjakan seorang tetangga, sebut saja A, untuk menjaga Dova saat saya bekerja paruh waktu. Saya meninggalkan Dova sekitar 2-6 jam perhari untuk bekerja. Dengan diawasi keluarga tentunya. 

Mengapa saya harus tetap bekerja? Karena saya memiliki tanggung jawab finansial yang tidak kecil. Sedangkan suami saya, memiliki tanggungan finansialnya sendiri, yang juga tidak kecil. 

Sampai suatu hari, saat Dova berusia 11,5 bulan, A mengundurkan diri, karena ia lebih tertarik bekerja di tempat lain dengan gaji yang lebih besar.

B yang penuh masalah

Kemudian saya mencari pengasuh pengganti. Orangnya sudah agak tua, sebut saja B, punya riwayat sakit berat, dan kelihatan tidak antusias bekerja. Dari hasil wawancara, saya dapatkan informasi bahwa ia datang ke sini hanya untuk menghilangkan trauma. Waduh... kalau begitu dia sendiri memiliki gangguan fisik dan jiwa, bagaimana mungkin dia bisa merawat anak saya dengan baik?

Dova juga kelihatan sangat tidak nyaman berada dalam gendongannya. Ia selalu menangis keras sampai berjam-jam tiap kali saya tinggal bekerja. Jujur saja saya sangat tidak tega melihat Dova demikian. Saya pun memberhentikan B, karena khawatir dengan perkembangan jiwa anak saya kalau terus-terusan menangis dan tertekan.

C yang keras kepala

Tidak lama setelah itu, datang C, gadis muda, yang kelihatannya baik. Dova juga tidak mau diasuh oleh pengasuh barunya ini. Tiap kali saya berangkat bekerja, selalu menangis berjam-jam seperti sebelumnya. Alhasil C lebih banyak menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dari pada mengasuh anak.

Akhirnya saya pun memberhentikan C. Selain karena Dova tidak mau diasuh oleh orang lain, C juga termasuk pekerja yang keras kepala. Dia sering tidak menuruti aturan yang saya berikan dan lebih suka mengasuh Dova dengan caranya sendiri. Bagi saya ini sangat berbahaya. Belum tentu pola asuh yang dia terapkan itu baik bagi anak saya, dan walau bagaimana pun saya adalah ibunya, tentu sayalah yang paling berhak mendesain anak saya, bukan orang lain.

Lelah...

Sekian kali mendapatkan pengasuh yang tidak cocok di hati dan tidak setia, membuat saya malas untuk mencari pengasuh lagi. Saya tidak mau berjudi dengan nasib Dova dengan menyerahkannya pada orang lain yang tidak kompeten. Ditambah lagi Dova adalah tipe anak yang tidak bisa lepas sama sekali dari ibunya. Jangankan orang lain, ayah atau kakek-neneknya sekali pun tidak bisa mengambil alih selama saya ada dalam penglihatannya. Dia pasti lebih memilih untuk selalu bersama saya.

Kakek nenek? Hmm... No.

Menitipkan Dova pada kakek-neneknya atau orang tua saya, memang bukan rencana saya dan suami sejak awal. Kami berprinsip, orang tua saya dahulu telah lelah mengurus saya dan adik-adik. Jadi biarlah sekarang beliau menikmati hari tuanya tanpa perlu direpotkan oleh masalah pengasuhan cucu. Pengasuhan Dova mutlak menjadi tanggung jawab kami orang tuanya. Walaupun sebenarnya orang tua saya senang-senang saja kalau dititipi cucunya, tetapi saya tahu diri, orang tua saya sudah tidak muda lagi, sudah kurang bertenaga untuk menghadapi aktifnya balita. Riwayat penyakit orang tua saya (hipertensi, vertigo, diabetes, serangan jantung, dan gangguan ginjal) juga cukup menjadi alasan untuk tidak menitipkan Dova pada kakek neneknya.

Daycare adalah harapan terakhir saya...

Kalau pun saya harus menyerahkan Dova pada pihak lain selama saya bekerja, pihak lain itu haruslah daycare profesional, daycare yang berbasis keperawatan. Berhari-hari, berminggu-minggu saya searching di internet, tanya sana-sini, tak ada daycare yang saya maksud. Rata-rata daycare yang beroperasi di sekitar tempat tinggal saya atau bahkan di Indonesia, adalah daycare yang konsepnya adalah sekolah (PAUD), namun memanjang jamnya hingga ada waktu makan dan tidur.

Sedangkan daycare yang saya inginkan adalah daycare yang dikelola oleh perawat. Dimana saya akan mendapat jaminan bahwa nutrisi anak saya terjaga, tidurnya berkualitas, bermain edukatif, ada perawat yang penuh kasih sayang menemani dan membujuk disaat rewel atau tantrum, jaminan penjagaan jika anak sakit ringan. Ada laporan tentang activity daily living anak saya setiap hari. Apakah makannya habis atau tidak, berapa kali ia BAK-BAB, bagaimana konsistensinya, apakah keras atau mencret, apakah tidurnya terganggu, dan seterusnya. Lebih ke perawatan dan pemeliharaan anak, bukan pendidikan. Meskipun dalam perawatan tetap ada aspek pendidikannya. 

Berhubung sampai sekarang saya belum menemukan tipe daycare seperti yang saya inginkan, maka sampai sekarang saya dan suami masih bergantian mengasuh Dova. Kebetulan suami bekerja online dari rumah, dan saya bekerja paruh waktu. Jadi walaupun agak pontang-panting, sampai saat ini kami masih bisa menangani sendiri. Atau kalaupun ada daycare seperti yang saya maksud, belum tentu juga Dova mau ditipkan disana, mengingat karakter Dova yang bondingnya dengan saya terlalu erat. 

Masa depan karir saya...

Masalah mungkin akan muncul manakala saya berniat mengambil pekerjaan purna waktu. Yaitu dengan menjadi perawat atau dosen sesuai cita-cita saya. Siapkah Dova berpisah dengan saya seharian setiap harinya? Belum lagi dinas malam yang harus saya jalani kalau saya menjadi perawat. Membayangkan kemungkinannya saja, amat mudah bagi saya untuk menebak, bahwa akan sulit bagi Dova untuk berpisah dengan saya. 

Bagaimana mungkin saya bisa berkonsentrasi merawat pasien kalau anak saya sendiri tersiksa ditinggal ibunya bekerja. Bagaimana mungkin saya merawat orang lain sedangkan anak saya sendiri butuh perawatan di rumah. Bagaimana mungkin saya membimbing mahasiswa di kampus sedangkan anak saya di rumah menangis terlantar tanpa bimbingan.

Maka atas dasar inilah akhirnya saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Setidaknya untuk sementara waktu, sampai anak saya bisa diberi penjelasan, dan akhirnya bisa ditinggal bekerja. Entah kapan hal itu bisa terwujud...

It's about responsibility as a mom...

Yang jelas, sebagai seorang ibu yang dahulu berdoa kepada Allah memohon-mohon kehadiran anak, maka sudah seharusnya sekarang saya mempertanggung jawabkan amanah yang telah diberikan Allah kepada saya. Cita-cita saya biarlah mengalah dulu untuk sementara waktu. Kelak akan ada waktunya saya kembali mengejar cita-cita, tanpa mengorbankan sang buah hati belahan jiwa.

Kini telah 2,5 tahun saya menikmati profesi yang kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya tidak, ibu rumah tangga. Saya menjadi perawat dan guru bagi anak saya di rumah. Untuk mengobati kerinduan saya akan bidang yang saya cintai, keperawatan dan pendidikan, saya kerap mengisi waktu dengan membaca, menulis, dan mengajar privat anak-anak sekolah di dekat rumah. 

The conclusion is...

Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan punya risiko. Saya mengambil pilihan yang kemungkinan risikonya paling kecil dampaknya bagi anak saya. Mudah-mudahan pilihan saya tidak salah.


PANTI JOMPO: SUDUT PANDANG BERBEDA





Hallo sobat blogger!

Mendengar kata panti jompo, sebagian masyarakat berpendapat negatif. Tempat pembuangan orang tua. Begitu kira-kira. Seperti tidak tahu berterimakasih kepada orang tua. Bagaikan habis manis sepah dibuang. 

Adat ketimuran dan agama juga mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berbakti kepada orang tua hingga akhir hayat mereka, bahkan hingga mereka telah tiada. Orang tua memiliki tempat yang amat terhormat dan mulia di hati kita.

Tetapi benarkah panti jompo adalah tempat pembuangan orang tua? 

Pada beberapa kasus, justru orang tua sendiri yang ingin hidup terpisah dari anaknya dan memilih dekat dengan kawan-kawan sesama lansia di panti jompo. Para orang tua ini lebih nyaman tinggal di panti jompo yang memfasilitasi mereka dengan aneka kegiatan yang cocok dengan kebutuhan mereka yang telah sepuh. Dibandingkan jika mereka tinggal bersama anak-anak yang sibuk bekerja dan jarang ada di rumah. Tinggal di panti jompo memberi mereka suasana yang berbeda.

Ada juga kasus dimana lansia membutuhkan bantuan penuh ( fully dependent care ) untuk kehidupan sehari-hari. Perawatan 24 jam karena adanya penyakit tertentu. Tetapi keluarganya semua bekerja dan tidak memungkinkan untuk memanggil seorang perawat lansia ke rumah. Pada kondisi ini, bisa jadi panti jompo adalah pilihan yang cukup bijak. Mengingat orang tua akan terurus dengan baik dan anak-anak bisa bekerja mencari nafkah. 

Pernahkah sobat blogger bayangkan, ada situasi-situasi tertentu, dengan kompleksitasnya membuat seseorang tidak memungkinkan untuk merawat orang tuanya sendiri? 

Seperti kisah nyata yang diceritakan oleh seorang sahabat saya...

Saya, Ny.X (32), adalah seorang ibu dari balita perempuan (1,5) yang bekerja paruh waktu. Saya bersama suami dan anak saya, masih tinggal bersama orang tua. 

Ayah saya sudah tidak bekerja lagi disebabkan oleh kondisi kesehatannya yang menurun. Memiliki riwayat hipertensi, serangan vertigo ( saat sedang menyetir), pernah dirawat di rumah sakit karena vertigo, dan pandangan mata buram karena katarak. 

Ibu saya memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus dengan suntik insulin setiap hari. Diabetesnya sudah mengganggu sedikit fungsi ginjal. Ibu juga memiliki penyakit jantung koroner. Pernah 3 kali dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Saat ini sedang menunggu jadwal operasi jantung bypass. 

Adik bungsu saya masih kelas 6 SD dan bersiap menghadapi UN. Belakangan ini ia sibuk menjalani beberapa try out UN. 

Untuk biaya hidup kami berenam, suami sayalah yang menanggung semuanya. Adapun penghasilan saya digunakan untuk membiayai sekolah adik saya dan membayar kewajiban cicilan.

Sebulan yang lalu, kakek dan nenek saya (orang tua angkat dari ibu saya) datang dari kampung, bermaksud hendak tinggal bersama kami, dengan alasan sudah renta. 

Namun belum sebulan tinggal bersama kami, nenek sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Tinggalah kakek seorang diri sepeninggal nenek. 

Dan, dari sinilah masalah bermula...

Kakek (85) dalam kondisi sakit stroke. Berbicara tidak sinkron, memori hampir tidak ada, kelemahan pada tungkai kaki, dan kelumpuhan lengan kanan. Untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, BAB, BAK, berpakaian, makan, berjalan, semua harus dibantu. Istilahnya ketergantungan penuh. Pendampingan 24 jam.

Perilaku kakek juga luar biasa istimewa. Setiap hari berteriak keras-keras tanpa mengenal waktu, marah dengan menyerang dan memukul, BAB-BAK di sembarang tempat, bahkan seringkali kotorannya diacak-acak. Persis seperti balita.

Ketika nenek tiada, kira-kira siapakah yang akan menggantikan tugas nenek mengurus kakek?

Mewakili ibu saya,saya berusaha untuk bermusyawarah dengan 2 orang bibi, bibi A dan bibi B. Saya mengajak keduanya untuk bergantian mengurus kakek. 

Bibi A tidak setuju, dengan alasan rumahnya sempit, di gang, malu kalau kakek berteriak-teriak. Apalagi bibi ini berjualan makanan di rumahnya, bagaimana kalau kakek sampai mengacak-acak kotoran di warungnya? Hal ini bagaikan mimpi buruk baginya. Dia ingin kakek dirawat oleh ibu saya atau bibi B, dan ia hanya datang menjenguk kakek sesekali saja. 

Bibi B mau saja bergantian merawat, asalkan bibi A mau. Kalau hanya ia dan ibu saya berdua bergantian mengurus kakek, ia merasa diperlakukan tidak adil. Apalagi bibi A adalah satu-satunya anak kandung kakek, sementara bibi B dan ibu saya adalah anak angkat. Selama kakek sakit setahun belakangan juga telah tinggal bersama bibi B.

Intinya tidak dicapai titik temu jika ingin 3 anak ini bergantian mengurus. Saya pun tidak lagi banyak berharap pada bibi A, karena jelas-jelas dia kurang ada itikad baik untuk mengurus kakek.

Saya pernah mencoba untuk mempekerjakan orang yang mau merawat lansia di rumah, tapi rupanya tidak semudah yang saya kira. Yayasan profesional sangat mahal untuk ukuran saya,sedangkan pekerja tradisional banyak yang mundur saat mengetahui kondisi kakek.

Berhubung selama kakek sakit (1 tahun) tinggal bersama bibi B di kampung, maka sekarang otomatis giliran ibu saya yang mengurus kakek. 


Kami telah berusaha mencoba...

Baru seminggu kami sekeluarga menggantikan tugas nenek untuk mengurus kakek, telah banyak kesulitan yang terjadi. 

Vertigo dan hipertensi ayah kambuh. Ayah saya hanya mampu berbaring di tempat tidur karena pusing hebat. Ibu saya dalam sehari bisa beberapa kali kambuh nyeri dada angina. Kami sekeluarga kurang tidur karena malam-malam begadang mendengar suara teriakan kakek. 

Saya juga sangat kerepotan karena dalam waktu yang sama harus mengurus balita dan lansia sekaligus, dengan segala kebutuhan dan tingkah polahnya yang luar biasa. Belum lagi mengurus kedua orang tua saya yang collaps. 

Bisa dibayangkan, dalam waktu yang sama, saya harus menenangkan balita yang tantrum sekaligus lansia yang mengamuk. Mempersiapkan makanan balita sekaligus membersihkan kotoran lansia. Menidurkan balita yang uring-uringan sekaligus melayani lansia mengobrol keras-keras. Paradoks. Tidak kondusif bagi perkembangan balita dan kenyamanan lansia.

Itu belum termasuk serangkaian tugas-tugas domestik khas ibu rumah tangga yang juga harus saya kerjakan, seperti memasak, mencuci, mengepel, menyetrika, mencuci piring, membantu adik saya belajar, dan lain-lain yang cukup menyita waktu dan tenaga.  

Entahlah harus bagaimana... 

Yang jelas sepeninggal nenek, karena keterbatasan waktu, tenaga, dan kesehatan kami, kakek jadi kurang terurus. 

Saya sempat berpikir untuk berhenti bekerja dan merawat kakek di rumah. Tapi siapa nanti yang akan membiayai sekolah adik saya? Siapkah saya melihat adik saya terganggu sekolahnya? Lalu siapa yang akan membayar kewajiban cicilan? Siapkah saya melihat debt collector datang ke rumah menagih-nagih hutang? Tanggungan finansial suami saya sendiri sudah cukup berat. Tidak mungkin saya menambah bebannya lagi.

Saya benar-benar bingung dan pusing.

Di satu sisi, saya ingin berbakti kepada kakek ( mewakili ibu dan ayah saya yang secara fisik tidak mampu untuk mengurus kakek sepenuhnya ). Tapi di sisi lain saya juga harus mengurus anak dan suami, membiayai sekolah adik saya, dan membayar kewajiban cicilan. 

Melakukan semuanya sekaligus jelas tidak mungkin karena saya memiliki keterbatasan waktu dan tenaga. 

Bagaikan buah simalakama. Pilihan yang sulit.

Akhirnya,...

Setelah saya timbang-timbang baik buruknya, saya memutuskan untuk... menitipkan kakek di panti jompo. 

Dengan pertimbangan, kakek akan ada yang mengurus dengan baik. Ayah saya tidak vertigo lagi dan fokus mengurus pengobatan ibu. Ibu saya tidak serangan jantung lagi dan fokus mengurus dirinya dan keluarga. Kami sekeluarga tidak kurang tidur. Adik saya bisa belajar dengan tenang. Suami saya bisa bekerja optimal. Saya bisa bekerja untuk membiayai sekolah adik dan panti jompo. Saya juga bisa mengurus anak dan suami dengan baik. 

Tiap bulan saya dan kedua bibi patungan membayar uang perawatan, snack tambahan, popok dewasa, dan obat-obatan. Dengan pembagian, bibi A 5%, bibi B 40%, dan saya 55%. Kontribusi mereka disesuaikan dengan kemampuan mereka. 

Tidak bisa dibilang murah, namun saya memilih opsi ini untuk mendapatkan solusi menang-menang.

Komentar keluarga besar...

Betapa panasnya telinga dan betapa perihnya hati saat mendengar komentar-komentar keluarga besar di kampung. Predikat anak durhaka, anak yang tidak tahu diuntung, anak kurang ajar, diguyurkan secara membabi-buta kepada ibu bersaudara. 

Sayangnya mereka tidak pernah berkomentar langsung di hadapan saya. Mereka hanya berani berkomentar di belakang kami. Seandainya ada yang berani mengatakan itu di hadapan saya, akan saya katakan pada mereka bahwa berbicara memang lebih gampang dari pada melakukan.

Pernahkah mereka, keluarga yang memiliki ikatan darah dengan kakek,merasakan merawat kakek di rumah mereka, barang sehari saja? 

Dimana mereka ketika ibu saya serangan jantung karena kelelahan dan stress mengurus kakek? 

Dimana mereka saat ayah saya vertigo karena kelelahan dan stress berulang kali mengepel lantai karena kotoran kakek? 

Dimana mereka saat suami saya tiap malam terpaksa begadang padahal esok harinya harus bekerja mencari nafkah untuk menghidupi kami sekeluarga besar? 

Dimana mereka saat keluarga kami menjalani ujian yang berat itu? 

Mengapa mereka saat itu tidak menyapa? 

Mengapa mereka saat itu tidak menunjukkan kepedulian? 

Pernahkah mereka sekedar bertanya, bagaimana kabar kakek? 

Padahal mereka semua jelas-jelas memiliki hubungan darah dengan kakek dan sempat merasakan juga kasih sayang kakek di masa lalu. 

Pada saat itu mereka sama sekali tidak ada dan tidak bersuara. Tetapi sekarang mereka lantang bersuara. Padahal mereka tidak pernah merasakan merawat kakek di dalam rumah mereka barang sehari pun. Bagaimana bisa mereka berbicara tentang apa yang kami rasakan?

Seandainya mereka sempat merasakan apa yang kami rasakan, saya yakin mereka tidak akan selantang itu berbicara.

Sekarang...

Kakek sudah tiada. Tepat 3 bulan semenjak kami menitipkan beliau di panti jompo dalam kondisi disorientasi dan tidak mengenali kami lagi, kakek menghembuskan nafas terakhirnya.

Masih terbayang dalam ingatan saya, kami sempat bimbang di muka panti sewaktu mengantar kakek untuk dititipkan. Sejujurnya saya tidak tega menitipkan kakek yang saya cintai kepada orang lain di hari tuanya. 

Namun manakala saya mengingat risiko yang ditimbulkan jika kakek di rumah kami, sangat berbahaya membiarkan ibu dan ayah dalam tekanan yang tinggi karena keadaan kakek. 

Kalau mereka berdua sampai kambuh vertigo dan serangan jantungnya, saya sangat takut kehilangan kedua orang tua saya. Atau kalau mereka berdua masuk rumah sakit sekaligus, lalu siapa yang akan mengurus mereka di rumah sakit? siapa yang akan mengurus anak saya? siapa yang akan mengurus kakek? 

Banyak pertanyaan berkelebat jika saya tidak segera mengambil keputusan. Selama ini, selain menjaga pola makan, meminimalisir stress adalah satu-satunya jalan untuk mencegah kekambuhan penyakit kedua orang tua saya. 

Menitipkan kakek di panti jompo, sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya. Bukanlah cita-cita dan keinginan saya. Tetapi manakala situasi terasa begitu sulit, setidaknya panti jompo bisa menjadi solusi menang-menang. 

Saya tidak menelantarkan kakek begitu saja. Saya tidak mengirim kakek kepada keponakan kandungnya yang sinis itu tanpa rasa tanggung jawab. Saya tidak pernah sedikit pun merepotkan mereka yang sinis kepada kami. Saya tidak membuang kakek di pinggir jalan tanpa martabat. Tapi saya menitipkan beliau kepada orang yang saya percayai akan mengurus kakek dengan baik. 


Andai saja pada waktu itu kondisi saya kondusif, tidak mungkin saya mengambil pilihan itu. Bijak atau tidak bijak, bagi saya tergantung duduk perkaranya, manfaat dan kerugiannya. 


Mudah-mudahan sudut pandang dan keputusan saya tidak salah.


Nah sobat blogger, itulah sebuah kisah nyata, tentang keluarga yang dengan keterbatasan kondisinya terpaksa menitipkan orang tua di panti jompo. Ternyata kompleks juga ya situasinya.

Jika sobat blogger mengalami situasi yang kurang lebih sama dengan keluarga tersebut dan juga telah memutuskan untuk menitipkan orang tua di panti jompo, ada beberapa hal yang harus sobat blogger perhatikan sebelum memilih panti jompo.

Hal yang harus diperhatikan:

  • Lokasi. Pilih yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kita, untuk memudahkan jika kita ingin menjenguk atau jika mendadak terjadi sesuatu.
  • Pengelola. Pastikan pengelolaannya memiliki izin. Jangan pilih panti jompo yang pengelolaannya terkesan asal-asalan atau meminta uang secara tidak wajar. Pastikan kita mengisi formulir atau surat perjanjian tentang peraturan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak diatas materai.
  • Personel. Seharusnya personel yang mengurus para lansia adalah perawat yang benar-benar berlatar belakang pendidikan keperawatan. Kalau pun tidak, minimal pernah terlatih dan memiliki sertifikat pelatihan perawatan lansia, sehingga paham bagaimana harus berinteraksi dan merawat lansia.
  • Fasilitas. Pilih yang fasilitasnya dapat memenuhi kebutuhan dasar lansia. Seperti makan, snack, laundry, area berjalan-jalan, kursi roda, televisi, dan tempat beribadah.
  • Akses ke tempat pelayanan kesehatan. Pilih yang dekat dengan tepat pelayanan kesehatan seperti puskesmas/klinik/rumah sakit, agar mudah menjangkaunya saat terjadi sesuatu yang darurat.
  • Lingkungan. Pilih yang lingkungannya kondusif untuk tempat tinggal lansia. Jangan pilih yang lingkungannya terlalu ramai dan bising. Lingkungan dalam panti juga harus terbebas dari bahaya, seperti asap rokok, karpet yang melipat, tangga, lantai yang licin, atau genangan air.
  • Rekomendasi. Lebih baik lagi jika seseorang yang anda kenal baik  yang merekomendasikannya. Karena tentu ia tahu persis kelebihan dan kekurangan dari panti jompo tersebut.


Demikianlah sobat blogger...

Pilihan terbaik bagi seorang anak adalah merawat orang tuanya sendiri, bagaimana pun keadaannya. Tidak pernah disarankan untuk menitipkan orang tua kita kepada pihak lain. Juga tidak ada seorang anak pun yang rela menitipkan orang tua yang dicintainya kepada orang lain. 

Namun manakala situasi menjadi demikian sulit dan rumitnya, masih ada jalan terakhir yang bisa kita pilih tanpa mengorbankan siapa pun. Selamat merawat orang tua yang kita cintai!


Salam